Dibuat tahun 2001 kalo ga salah. pas awal2 aku mulai nulis.
Ibu dan Adik Baru
“Apakah ibu tiri itu jahat? Bagaimana rasanya punya ibu? Terus, bagaimana rasanya punya adik?” itu adalah pertanyaanku ketika ibu guru memberi kesempatan untuk bertanya tentang trigonometri.
Pertanyaanku disambut tawa oleh seluruh kelas. Suasana menjadi ramai, hingga ibu guru harus berteriak untuk menenangkan seluruh kelas.
“Nanti kalau punya ibu, kamu bisa minta mik cucu” ejek salah satu temanku.
Secara spontan kepalan tanganku mendarat dihidungnya disertai teriakan mengaduh yang cukup keras. Sejenak kelas menjadi sepi. Semua mata tertuju pada anak yang berguling-guling dilantai sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Dan seperti biasa, aku harus kembali berhadapan dengan guru BP setelah jam pelajaran selesai.
“Keempat kalinya dalam bulan ini, Ardi. Keempat kalinya!” kata Bu Indri, guru BP-ku heran. “Ibu sudah tidak tahu lagi harus member nasehat apa” tambahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Maaf…” kataku lirih sambil memainkan ujung celana pendek merahku.
“Kamu kenapa sih? Padahal kamu anak yang cerdas dan berprestasi, tapi kenapa bisa jadi sebrutal ini?” Tanya Bu Indri Tegas. Aku bisa merasakan kekesalan dari nada bicaranya.
Aku mengangkat wajahku dan menatap mata guru yang paling sering memberi ceramah padaku itu. “Bu guru…. apa ibu tiri itu jahat? Bagaimana rasanya punya ibu?”
Pertanyaanku membuat Bu Indri sedikit terkejut. Dia kemudian tersenyum dan berkata,”Ibu tiri jahat hanya ada di sinetron, Ardi tidak perlu cemas” Bu Indri membelai lembut rambutku dan melanjutkan,”Ibu yakin Ibu barumu akan sangat baik, sebaik almarhum ibumu. Kau akan merasakan kegembiraan seperti yang kau rasakan dulu bersama Ibumu”
“Tapi bu….” Potongku cepat. “Aku tidak tahu rasanya punya Ibu. Kata Ayah, ibu…… meninggal setelah melahirkan aku. Selain itu….adik. Aku tiba-tiba akan punya adik. Aku tidak suka itu. Adik hanya merepotkan saja”
………………………..
Terdengar alunan musik didalam kamarku. Alunan musik yang menjadi favoritku sejak kecil., Canon. Entah sejak kapan lagu ini menjadi favoritku. Sejak kecil aku seperti tumbuh diiringi lagu ini. Ketika sedang senang ataupun sedih, Canon selalu menemaniku. Aku bahkan mengikuti kursus piano hanya agar bisa memainkan lagu tersebut sendiri.
“Andri” panggilan ayah membuyarkan lamunanku. “Kau benar-benar menyukai musik ini ya? Canon”
Aku menjawabnya dengan anggukan tanpa semangat.
“Baiklah, cepat ganti baju. Kita segera berangkat” perintah ayah sambil memainkan kunci mobil dengan jarinya.
Ya. Hari ini aku dan ayah akan pergi ketempat calon ibu dan adik baruku. Rumah mereka berada diluar kota. Sepanjang perjalanan, ayah selalu memutar lagu music kesukaanku, Canon.
“Tidak apa yah? Terus-terusan putar lagu ini?” tanyaku.
“Tapi kau suka bukan?” seloroh ayah tersenyum.
Ya, aku memang suka lagu ini. Tapi apa ayah pikir aku bisa dibujuk hanya dengan memutar Canon terus-terusan? Aku tidak suka rencana ayah menikah lagi. Ibu baru? Adik baru? Aku tidak butuh. Selama ini, meskipun hanya dengan ayah saja, hidup kami sudah sangat baik.
“Kau tahu, dulu ibumu juga sangat menyukai lagu ini” kata ayah memecahkan keheningan diantara kami.
“Eh?”
“Ketika mengandung, lagu ini selalu diputar setiap hari. Tidak ada hari tanpa lagu ini” lanjut ayah mengenang. “jadi kau sudah mengenal lagu ini sejak dalam kandungan" Dia kemudian mencoba mengelus kepalaku, namun aku segera bergerak menghindar. Ayah tampak kecewa setelahnya.
****
“Ah, sudah datang ya? Mari-mari, silahkan masuk. Ini pasti Andri, benar bukan?” kata wanita yang memperkenalkan diri dengan nama Astuti itu dengan ramah. Namun tetap saja keramahannya tidak bisa menghilangkan wajah kesalku. Yang lebih membuatku kesal, Ayah selalu senyum-senyum memandangnya seperti orang bodoh. Wanita ini, calon ibuku.
“Clara dimana ya? Padahal sudah jauh-jauh bertamu kesini…” kata wanita itu sambil menyuguhkan segelas sirup sirsak padaku dan secangkir the untuk ayah.
“Mungkin sedang main diluar. Biasa, anak-anak” ucap ayah dengan senyum bodohnya. “Ayo, aku bantu cari” tambahnya sambil berdiri.
Bagus! Ini artinya aku juga harus ikut mencari bocah itu. Bagus sekali ayah, kau membuatku semakin kesal!
Kami bertiga kemudian keluar mencari ‘Clara’, anak yang akan menjadi adikku. Kami kemudian menemukannya sedang bermain dengan gelembung sabun di tanah kosong, beberapa puluh meter dari tempat rumah calon ibuku.
Seorang anak perempuan yang sedang berusaha membuat gelembung sabun. Tangan kirinya memegangi tempat cairan sabun, sedangkan tangan kanannya memegangi sedotan. Beberapa kali dia mengaduk sabunnya dengan sedotan, dan kemudian meniupnya. Karena tiupannya terlalu keras, gelembung sabunnya selalu pecah sebelum mengembang besar. Sekali lagi dia mengaduk sabunnya dengan kesal, dan melakukan kesalahan yang sama.
Dasar bodoh, pikirku.
Aku kemudian mendekati anak itu. Sang ibu juga berusaha mendekati Clara, tapi Ayah menahannya.
“Hei” kataku dingin pada anak itu.
Clara melihatku dengan wajah ketakutan.
Aku memperhatikan tangannya yang memegang tempat sabun dan sedotan. “Kau suka main gelembung sabun?” tanyaku.
Clara mengangguk. Dia masih terlihat takut padaku.
“Kamu meniupnya terlalu keras, jadi gelembungnya selalu pecah” aku mengulurkan tanganku. “Kemarikan. Aku tunjukkan caranya”
Dengan ragu, Clara memberikan botol sabun dan sedotannya.
Sedikit mengaduk, aku kemudian meniup sedotan dan membuat gelembung sabun.
Aku membuat gelembung sabun yang sagat besar. Saking besarnya, aku sendiri jadi merasa terkejut. Apa aku memang sejago ini bikin gelembung sabun?
Clara yang melihat gelembung sabun yang kubuat bersorak kegirangan. Matanya bersinar-sinar ketika gelembung sabun itu melayang-layang tertiup angin. Dia kemudian menarik-narik lengan bajuku sambil mengatakan,”Lagi, lagi” dengan bersemangat. Wajah takut yang ditunjukkannya padaku tadi telah menghilang.
Tangannya yang bersabun mengotori lengan baju favoritku. Biasanya kalau ada orang yang berani mengotori baju ini, langsung kutonjok tanpa pikir panjang. Namun entah kenapa, amarah yang biasanya meledak-ledak itu hilang karena senyum polos yang ditunjukkan Clara.
“Namamu siapa?” aku bertanya sambil tersenyum. Aku sebenarnya sudah tahu namanya, tapi aku hanya ingin bersikap ramah saja.
“Clara”
“Clara, mau diajari bikin gelembung sabun?”
“Umm, Umm” Jawabnya mantap sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Akhirnya aku menghabiskan hari ini dengan menemani Clara bermain gelembung sabun. Sedikit melelahkan, tapi tidak buruk. Malah sangat menyenangkan. Tanpa terasa, detik-demi detik telah berlalu. Matahari mulai tenggelam. Sudah saatnya pulang.
Ketika aku dan ayah pamit, Clara terus memegangi lenganku dengan wajah mau menangis. Dia diminta untuk melepaskan tanganku, tapi dia menggeleng sekuat tenaga, sambil mempererat pegangannya. Aku kemudian mendekati dan mengelus-elus kepalanya.
“Clara, kapan-kapan kita akan main bareng lagi. Kakak janji ….” Aku menghentikan ucapanku sampai disitu. Aku merasa sangat terkejut. Aku menyebut diriku sendiri dengan ‘kakak’. Ketika aku menoleh kearah Ayah, dia tampak sangat gembira.
Akhirnya Clara mau melepaskan pegangannya setelah kubujuk. Dia dan ibunya melambaikan tangan, mengantarkan kepergian kami.
Didalam mobil, ayah menyetir sambil senyum-senyum sendiri. Aku sampai harus beberapa kali mengingatkan agar melihat kedepan kalau menyetir mobil.
“Sepertinya…” kataku “Punya ibu dan adik tidak jelek juga”.
Ayah yang senang mendengar ucapanku, kemudian mengelus-elus kepalaku. Kali ini aku tidak menghindar.
Hanya dalam beberapa jam, semua pikiran buruk tentang ibu dan adik berubah. Sepertinya aku bisa menerima kehadiran mereka berdua dalam kehidupanku. Aku punya cukup waktu dan ruang pada diriku untuk mereka. Dan yang paling penting, aku mau ayahku bahagia. Ah, apakah ini tandanya aku sudah sedikit lebih dewasa?
Aku memasukkan kaset dan memutar lagu favoritku, Canon. Kami sekarang dalam perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan, alunan lagu Canon selalu mengiringi kami. Aku dan ayah mulai bersenandung mengikuti irama lagu tersebut.•
11/13/2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment