11/05/2008

My Super Selfish Step Sister (MS4)

dibuat tahun 2008 juga. waktu itu pas hari jumat, malah banyak kerjaan. padahal maunya jumat itu santai santai. terus kepikiran buat bikin yang satu ini.

My Super Selfish Step Sister (MS4)

Namaku Andi Eka Bhayangkara, 17 tahun, kelas 2 SMAN 2 Klaten. Kehidupanku sampai saat ini biasa-biasa saja. Ya, untuk sementara ini baik-baik saja. Ayahku adalah seorang polisi yang menjabat sebagai Wakapolda Jawa Tengah, sehingga lebih sering berada di Semarang dari pada di Klaten. Ibu kandungku meninggal ketika aku masih berusia sekitar 7 tahun. Kemudian ketika aku kelas 1 SMP, ayahku menikah lagi dengan ibu dari teman sekelasku waktu itu. Dan secara tiba-tiba, aku memiliki seorang ibu baru dan seorang adik perempuan yang usianya hanya 6 bulan lebih muda dari aku.

Nama adikku yang baru adalah Eka Aryani. Aneh memang, karena ada dua orang ‘Eka’ dalam keluarga kami. Jadi ketika ada yang memanggil ‘Eka’, kami berdua otomatis menyahut secara bersamaan. Ibu (yang baru) sempat mengusulkan untuk mengganti nama adikku menjadi Dwi Aryani, tapi komentar ayah, ”Halah, buat apa? Pangil saja si kakak Andi, dan si adik Ani. Beres kan?” akhirnya kami semua menyetujui usul ayah.

Tapi masalah tidak selesai disitu. Meskipun yang mengusulkan Ayah, dia tetap sering memanggil kami dengan nama ‘Eka’, sehingga kami harus balik bertanya “Yang mana?” secara bersamaan. Setelah itu Ayah akan menjawab “yang adik”, atau “yang kakak”.

Sebenarnya Eka, maksudku, Ani, adalah adik yang baik, tapi sayangnya dia kelewat aktif. Kalau sudah mau sesuatu, harus dituruti. Super egois. Masalah kedua, dia tipikal orang yang cepat bosan. Misalnya, ketika dia sedang tergila-gila sama olah raga basket, dia seakan mewajibkanku ikut-ikutan main basket. Namun setelah 3 bulan berlatih, dengan enaknya dia bilang “Bosan. Mau ganti yang lain”. Super kekanakan.

Aku masih ingat ketika dia tiba-tiba ingin memelihara ular. Kularang, dia ngotot. Setelah dibelikan, beberapa minggu kemudian ularnya lepas. Jadinya aku harus blusukan kekolong-kolong tempat tidur, meja, lemari sampai ketempat-tempat aneh disekitar rumah. Setelah tertangkap (untung ularnya tidak berbisa) dia bilang,”Nggak ah, takut lepas lagi. Buat kakak saja.” HIIIIIIIIH!!!! Pingin kucekik dia pakai ular yang kupegang saat itu.

Teman-teman bilang senyumnya manis. Tapi buatku, senyum manisnya itu artinya BAHAYA! Soalnya pasti ada maunya. Kalau maunya yang biasa saja sih, tidak apa-apa. Tapi dia maunya itu selalu aneh-aneh. Ya ular-lah, belajar nge-drift-lah, padahal menjaga mesin mobil tetap hidup saja dia tidak bisa, pokoknya sesuatu yang aneh bin ajaib.

Sebenarnya kalau dia mau yang aneh-aneh itu tidak apa-apa, asal jangan libatkan aku. Anak itu sedikit-sedikit, “Kak!”, sedikit-sedikit, “Kak,”. aku kadang berpikir, apa sih maunya anak ini?

Bukan cuma itu saja yang sering bikin aku kesal. Kalau minta sama orang lain, dia bersikap manisnya luar biasa. Kalau mintanya ke aku, pake gaya merintah. Posisiku ini sebagai KAKAK! Bukan pembantu!

Saat ini, dia sedang suka baca cerita-cerita Enid Blyton. Ide-ide gila belum masuk kekepalanya. Sementara ini, Aman! Ya, sementara ini. Tapi aku yakin kalau suasana aman ini tidak akan berlangsung lama.

Suatu sore, ketika ayah sedang pulang ke Klaten untuk Liburan, aku melihat adikku sedang membaca komik Detektif Conan di sofa di ruang tengah, Ayah sedang duduk disampingnya membaca Koran, dan Ibu sedang entah dimana.

Melihat suasana damai tersebut, aku memutuskan menonton sepak bola Liga Indonesia yang disiarkan salah satu stasiun TV sambil tiduran di karpet. Sedang asik-asiknya menonton pertandingan, tiba-tiba adikku menutupi layar TV yang sedang kutonton dengan badannya sambil tersenyum bersemangat.

“Minggir Ni. Aku mau nonton!” kataku kesal

Tapi dia tidak beranjak dari tempatnya. Dia malah tertawa terkikik dengan suara yang sangat aneh.

Ok, aku tahu apa artinya ini. Ini artinya masa-masa damaiku sebentar lagi berakhir.

“Kak, tahu nggak? Aku punya ide yang bagus sekali” katanya bersemangat.

Ya, terus?

“Kakak tahu, kan? Banyak sekali kejahatan remaja yang dilakukan oleh orang-orang seumuran kita.”

Ya, terus?

“Tentunya polisi tidak bisa berbuat banyak karena mereka jarang sekali bersinggungan dengan kehidupan remaja. Karena mereka tidak bisa tahu jalan pikiran remaja”

Ya, terus?

“Yang paling tahu tentang remaja adalah remaja itu sendiri, Bukan?” katanya menjelaskan

Aku melihat buku yang dipegangnya. Detektif Conan.

“…………………………………..”

…Jangan katakan kalau kau…mau…

“Terus idemu?” aku bertanya dengan suara tertahan. Aku merasakan keringatku yang mengalir membasahi punggungku.

“Membuat klub detektif SMA”

He?

“Kerjaannnya menyelidiki kasus-kasus kenakalan remaja di SMA kita”

Heeeee?!!!

“Dan kakak dapat kehormatan untuk menjadi anggota yang pertama”

HEEEEEEEE…………..?!!!!

Aku berdiri, mendekat, dan menatap matanya. Dia diam tidak bergerak, balas menatapku. Setelah diam agak lama, kutowel pipinya. Dia protes, tapi tidak aku gubris. Karena yang seharusnya protes itu aku. Tapi apa daya, aku hanya bisa pasrah karena ayah ber-*ehem* dengan sengaja yang kira-kira artinya “Nurut saja, le”

Nasib....

No comments: