11/13/2008

Ibu dan Adik Baru

Dibuat tahun 2001 kalo ga salah. pas awal2 aku mulai nulis.

Ibu dan Adik Baru


“Apakah ibu tiri itu jahat? Bagaimana rasanya punya ibu? Terus, bagaimana rasanya punya adik?” itu adalah pertanyaanku ketika ibu guru memberi kesempatan untuk bertanya tentang trigonometri.

Pertanyaanku disambut tawa oleh seluruh kelas. Suasana menjadi ramai, hingga ibu guru harus berteriak untuk menenangkan seluruh kelas.

“Nanti kalau punya ibu, kamu bisa minta mik cucu” ejek salah satu temanku.

Secara spontan kepalan tanganku mendarat dihidungnya disertai teriakan mengaduh yang cukup keras. Sejenak kelas menjadi sepi. Semua mata tertuju pada anak yang berguling-guling dilantai sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Dan seperti biasa, aku harus kembali berhadapan dengan guru BP setelah jam pelajaran selesai.

“Keempat kalinya dalam bulan ini, Ardi. Keempat kalinya!” kata Bu Indri, guru BP-ku heran. “Ibu sudah tidak tahu lagi harus member nasehat apa” tambahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Maaf…” kataku lirih sambil memainkan ujung celana pendek merahku.

“Kamu kenapa sih? Padahal kamu anak yang cerdas dan berprestasi, tapi kenapa bisa jadi sebrutal ini?” Tanya Bu Indri Tegas. Aku bisa merasakan kekesalan dari nada bicaranya.

Aku mengangkat wajahku dan menatap mata guru yang paling sering memberi ceramah padaku itu. “Bu guru…. apa ibu tiri itu jahat? Bagaimana rasanya punya ibu?”

Pertanyaanku membuat Bu Indri sedikit terkejut. Dia kemudian tersenyum dan berkata,”Ibu tiri jahat hanya ada di sinetron, Ardi tidak perlu cemas” Bu Indri membelai lembut rambutku dan melanjutkan,”Ibu yakin Ibu barumu akan sangat baik, sebaik almarhum ibumu. Kau akan merasakan kegembiraan seperti yang kau rasakan dulu bersama Ibumu”

“Tapi bu….” Potongku cepat. “Aku tidak tahu rasanya punya Ibu. Kata Ayah, ibu…… meninggal setelah melahirkan aku. Selain itu….adik. Aku tiba-tiba akan punya adik. Aku tidak suka itu. Adik hanya merepotkan saja”

………………………..

Terdengar alunan musik didalam kamarku. Alunan musik yang menjadi favoritku sejak kecil., Canon. Entah sejak kapan lagu ini menjadi favoritku. Sejak kecil aku seperti tumbuh diiringi lagu ini. Ketika sedang senang ataupun sedih, Canon selalu menemaniku. Aku bahkan mengikuti kursus piano hanya agar bisa memainkan lagu tersebut sendiri.

“Andri” panggilan ayah membuyarkan lamunanku. “Kau benar-benar menyukai musik ini ya? Canon”

Aku menjawabnya dengan anggukan tanpa semangat.

“Baiklah, cepat ganti baju. Kita segera berangkat” perintah ayah sambil memainkan kunci mobil dengan jarinya.

Ya. Hari ini aku dan ayah akan pergi ketempat calon ibu dan adik baruku. Rumah mereka berada diluar kota. Sepanjang perjalanan, ayah selalu memutar lagu music kesukaanku, Canon.

“Tidak apa yah? Terus-terusan putar lagu ini?” tanyaku.

“Tapi kau suka bukan?” seloroh ayah tersenyum.

Ya, aku memang suka lagu ini. Tapi apa ayah pikir aku bisa dibujuk hanya dengan memutar Canon terus-terusan? Aku tidak suka rencana ayah menikah lagi. Ibu baru? Adik baru? Aku tidak butuh. Selama ini, meskipun hanya dengan ayah saja, hidup kami sudah sangat baik.

“Kau tahu, dulu ibumu juga sangat menyukai lagu ini” kata ayah memecahkan keheningan diantara kami.

“Eh?”

“Ketika mengandung, lagu ini selalu diputar setiap hari. Tidak ada hari tanpa lagu ini” lanjut ayah mengenang. “jadi kau sudah mengenal lagu ini sejak dalam kandungan" Dia kemudian mencoba mengelus kepalaku, namun aku segera bergerak menghindar. Ayah tampak kecewa setelahnya.

****

“Ah, sudah datang ya? Mari-mari, silahkan masuk. Ini pasti Andri, benar bukan?” kata wanita yang memperkenalkan diri dengan nama Astuti itu dengan ramah. Namun tetap saja keramahannya tidak bisa menghilangkan wajah kesalku. Yang lebih membuatku kesal, Ayah selalu senyum-senyum memandangnya seperti orang bodoh. Wanita ini, calon ibuku.

“Clara dimana ya? Padahal sudah jauh-jauh bertamu kesini…” kata wanita itu sambil menyuguhkan segelas sirup sirsak padaku dan secangkir the untuk ayah.

“Mungkin sedang main diluar. Biasa, anak-anak” ucap ayah dengan senyum bodohnya. “Ayo, aku bantu cari” tambahnya sambil berdiri.

Bagus! Ini artinya aku juga harus ikut mencari bocah itu. Bagus sekali ayah, kau membuatku semakin kesal!

Kami bertiga kemudian keluar mencari ‘Clara’, anak yang akan menjadi adikku. Kami kemudian menemukannya sedang bermain dengan gelembung sabun di tanah kosong, beberapa puluh meter dari tempat rumah calon ibuku.

Seorang anak perempuan yang sedang berusaha membuat gelembung sabun. Tangan kirinya memegangi tempat cairan sabun, sedangkan tangan kanannya memegangi sedotan. Beberapa kali dia mengaduk sabunnya dengan sedotan, dan kemudian meniupnya. Karena tiupannya terlalu keras, gelembung sabunnya selalu pecah sebelum mengembang besar. Sekali lagi dia mengaduk sabunnya dengan kesal, dan melakukan kesalahan yang sama.

Dasar bodoh, pikirku.
Aku kemudian mendekati anak itu. Sang ibu juga berusaha mendekati Clara, tapi Ayah menahannya.

“Hei” kataku dingin pada anak itu.

Clara melihatku dengan wajah ketakutan.

Aku memperhatikan tangannya yang memegang tempat sabun dan sedotan. “Kau suka main gelembung sabun?” tanyaku.

Clara mengangguk. Dia masih terlihat takut padaku.

“Kamu meniupnya terlalu keras, jadi gelembungnya selalu pecah” aku mengulurkan tanganku. “Kemarikan. Aku tunjukkan caranya”

Dengan ragu, Clara memberikan botol sabun dan sedotannya.

Sedikit mengaduk, aku kemudian meniup sedotan dan membuat gelembung sabun.
Aku membuat gelembung sabun yang sagat besar. Saking besarnya, aku sendiri jadi merasa terkejut. Apa aku memang sejago ini bikin gelembung sabun?

Clara yang melihat gelembung sabun yang kubuat bersorak kegirangan. Matanya bersinar-sinar ketika gelembung sabun itu melayang-layang tertiup angin. Dia kemudian menarik-narik lengan bajuku sambil mengatakan,”Lagi, lagi” dengan bersemangat. Wajah takut yang ditunjukkannya padaku tadi telah menghilang.
Tangannya yang bersabun mengotori lengan baju favoritku. Biasanya kalau ada orang yang berani mengotori baju ini, langsung kutonjok tanpa pikir panjang. Namun entah kenapa, amarah yang biasanya meledak-ledak itu hilang karena senyum polos yang ditunjukkan Clara.

“Namamu siapa?” aku bertanya sambil tersenyum. Aku sebenarnya sudah tahu namanya, tapi aku hanya ingin bersikap ramah saja.

“Clara”

“Clara, mau diajari bikin gelembung sabun?”

“Umm, Umm” Jawabnya mantap sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.

Akhirnya aku menghabiskan hari ini dengan menemani Clara bermain gelembung sabun. Sedikit melelahkan, tapi tidak buruk. Malah sangat menyenangkan. Tanpa terasa, detik-demi detik telah berlalu. Matahari mulai tenggelam. Sudah saatnya pulang.

Ketika aku dan ayah pamit, Clara terus memegangi lenganku dengan wajah mau menangis. Dia diminta untuk melepaskan tanganku, tapi dia menggeleng sekuat tenaga, sambil mempererat pegangannya. Aku kemudian mendekati dan mengelus-elus kepalanya.

“Clara, kapan-kapan kita akan main bareng lagi. Kakak janji ….” Aku menghentikan ucapanku sampai disitu. Aku merasa sangat terkejut. Aku menyebut diriku sendiri dengan ‘kakak’. Ketika aku menoleh kearah Ayah, dia tampak sangat gembira.

Akhirnya Clara mau melepaskan pegangannya setelah kubujuk. Dia dan ibunya melambaikan tangan, mengantarkan kepergian kami.

Didalam mobil, ayah menyetir sambil senyum-senyum sendiri. Aku sampai harus beberapa kali mengingatkan agar melihat kedepan kalau menyetir mobil.

“Sepertinya…” kataku “Punya ibu dan adik tidak jelek juga”.

Ayah yang senang mendengar ucapanku, kemudian mengelus-elus kepalaku. Kali ini aku tidak menghindar.

Hanya dalam beberapa jam, semua pikiran buruk tentang ibu dan adik berubah. Sepertinya aku bisa menerima kehadiran mereka berdua dalam kehidupanku. Aku punya cukup waktu dan ruang pada diriku untuk mereka. Dan yang paling penting, aku mau ayahku bahagia. Ah, apakah ini tandanya aku sudah sedikit lebih dewasa?

Aku memasukkan kaset dan memutar lagu favoritku, Canon. Kami sekarang dalam perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan, alunan lagu Canon selalu mengiringi kami. Aku dan ayah mulai bersenandung mengikuti irama lagu tersebut.
Read More..

11/05/2008

My Super Selfish Step Sister (MS4)

dibuat tahun 2008 juga. waktu itu pas hari jumat, malah banyak kerjaan. padahal maunya jumat itu santai santai. terus kepikiran buat bikin yang satu ini.

My Super Selfish Step Sister (MS4)

Namaku Andi Eka Bhayangkara, 17 tahun, kelas 2 SMAN 2 Klaten. Kehidupanku sampai saat ini biasa-biasa saja. Ya, untuk sementara ini baik-baik saja. Ayahku adalah seorang polisi yang menjabat sebagai Wakapolda Jawa Tengah, sehingga lebih sering berada di Semarang dari pada di Klaten. Ibu kandungku meninggal ketika aku masih berusia sekitar 7 tahun. Kemudian ketika aku kelas 1 SMP, ayahku menikah lagi dengan ibu dari teman sekelasku waktu itu. Dan secara tiba-tiba, aku memiliki seorang ibu baru dan seorang adik perempuan yang usianya hanya 6 bulan lebih muda dari aku.

Nama adikku yang baru adalah Eka Aryani. Aneh memang, karena ada dua orang ‘Eka’ dalam keluarga kami. Jadi ketika ada yang memanggil ‘Eka’, kami berdua otomatis menyahut secara bersamaan. Ibu (yang baru) sempat mengusulkan untuk mengganti nama adikku menjadi Dwi Aryani, tapi komentar ayah, ”Halah, buat apa? Pangil saja si kakak Andi, dan si adik Ani. Beres kan?” akhirnya kami semua menyetujui usul ayah.

Tapi masalah tidak selesai disitu. Meskipun yang mengusulkan Ayah, dia tetap sering memanggil kami dengan nama ‘Eka’, sehingga kami harus balik bertanya “Yang mana?” secara bersamaan. Setelah itu Ayah akan menjawab “yang adik”, atau “yang kakak”.

Sebenarnya Eka, maksudku, Ani, adalah adik yang baik, tapi sayangnya dia kelewat aktif. Kalau sudah mau sesuatu, harus dituruti. Super egois. Masalah kedua, dia tipikal orang yang cepat bosan. Misalnya, ketika dia sedang tergila-gila sama olah raga basket, dia seakan mewajibkanku ikut-ikutan main basket. Namun setelah 3 bulan berlatih, dengan enaknya dia bilang “Bosan. Mau ganti yang lain”. Super kekanakan.

Aku masih ingat ketika dia tiba-tiba ingin memelihara ular. Kularang, dia ngotot. Setelah dibelikan, beberapa minggu kemudian ularnya lepas. Jadinya aku harus blusukan kekolong-kolong tempat tidur, meja, lemari sampai ketempat-tempat aneh disekitar rumah. Setelah tertangkap (untung ularnya tidak berbisa) dia bilang,”Nggak ah, takut lepas lagi. Buat kakak saja.” HIIIIIIIIH!!!! Pingin kucekik dia pakai ular yang kupegang saat itu.

Teman-teman bilang senyumnya manis. Tapi buatku, senyum manisnya itu artinya BAHAYA! Soalnya pasti ada maunya. Kalau maunya yang biasa saja sih, tidak apa-apa. Tapi dia maunya itu selalu aneh-aneh. Ya ular-lah, belajar nge-drift-lah, padahal menjaga mesin mobil tetap hidup saja dia tidak bisa, pokoknya sesuatu yang aneh bin ajaib.

Sebenarnya kalau dia mau yang aneh-aneh itu tidak apa-apa, asal jangan libatkan aku. Anak itu sedikit-sedikit, “Kak!”, sedikit-sedikit, “Kak,”. aku kadang berpikir, apa sih maunya anak ini?

Bukan cuma itu saja yang sering bikin aku kesal. Kalau minta sama orang lain, dia bersikap manisnya luar biasa. Kalau mintanya ke aku, pake gaya merintah. Posisiku ini sebagai KAKAK! Bukan pembantu!

Saat ini, dia sedang suka baca cerita-cerita Enid Blyton. Ide-ide gila belum masuk kekepalanya. Sementara ini, Aman! Ya, sementara ini. Tapi aku yakin kalau suasana aman ini tidak akan berlangsung lama.

Suatu sore, ketika ayah sedang pulang ke Klaten untuk Liburan, aku melihat adikku sedang membaca komik Detektif Conan di sofa di ruang tengah, Ayah sedang duduk disampingnya membaca Koran, dan Ibu sedang entah dimana.

Melihat suasana damai tersebut, aku memutuskan menonton sepak bola Liga Indonesia yang disiarkan salah satu stasiun TV sambil tiduran di karpet. Sedang asik-asiknya menonton pertandingan, tiba-tiba adikku menutupi layar TV yang sedang kutonton dengan badannya sambil tersenyum bersemangat.

“Minggir Ni. Aku mau nonton!” kataku kesal

Tapi dia tidak beranjak dari tempatnya. Dia malah tertawa terkikik dengan suara yang sangat aneh.

Ok, aku tahu apa artinya ini. Ini artinya masa-masa damaiku sebentar lagi berakhir.

“Kak, tahu nggak? Aku punya ide yang bagus sekali” katanya bersemangat.

Ya, terus?

“Kakak tahu, kan? Banyak sekali kejahatan remaja yang dilakukan oleh orang-orang seumuran kita.”

Ya, terus?

“Tentunya polisi tidak bisa berbuat banyak karena mereka jarang sekali bersinggungan dengan kehidupan remaja. Karena mereka tidak bisa tahu jalan pikiran remaja”

Ya, terus?

“Yang paling tahu tentang remaja adalah remaja itu sendiri, Bukan?” katanya menjelaskan

Aku melihat buku yang dipegangnya. Detektif Conan.

“…………………………………..”

…Jangan katakan kalau kau…mau…

“Terus idemu?” aku bertanya dengan suara tertahan. Aku merasakan keringatku yang mengalir membasahi punggungku.

“Membuat klub detektif SMA”

He?

“Kerjaannnya menyelidiki kasus-kasus kenakalan remaja di SMA kita”

Heeeee?!!!

“Dan kakak dapat kehormatan untuk menjadi anggota yang pertama”

HEEEEEEEE…………..?!!!!

Aku berdiri, mendekat, dan menatap matanya. Dia diam tidak bergerak, balas menatapku. Setelah diam agak lama, kutowel pipinya. Dia protes, tapi tidak aku gubris. Karena yang seharusnya protes itu aku. Tapi apa daya, aku hanya bisa pasrah karena ayah ber-*ehem* dengan sengaja yang kira-kira artinya “Nurut saja, le”

Nasib....
Read More..

Aku : Vampire

Dibuat tahun 2008. versi awal dari Devil's Eye

Aku : Vampire


Namaku Wilhelmina Marker. Dan aku seorang vampire.

Bima, manusia yang memiliki tenaga spiritual yang luar biasa, satu-satunya mahluk yang pernah mengalahkanku, sedang duduk dilantai apartemenku membaca sebuah buku yang kelihatannya menarik, sambil menyandarkan punggungnya ke tembok.

Ketika dia sedang tenggelam dalam dunia bukunya, Aku terkadang melirik, melihat wajah seriusnya. Aku tahu bahwa tidak seharusnya aku menyimpan perasaan ini kepada seorang manusia, karena aku tahu bahwa kami tidak mungkin bersatu.

Aku adalah seorang vampire yang abadi dan hidup dibawah remangnya cahaya bulan, sedangkan dia adalah manusia, yang berumur pendek dan hidup dibawah terangnya matahari. Dari semua kisah cinta yang melibatkan bangsa manusia dengan vampire yang pernah kudengar, tidak ada satupun yang berakhir bahagia.

Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli apakah cerita kami nanti akan berakhir bahagia atau tidak. Yang jelas, saat ini aku hanya selalu berada disisinya, tertawa bersama, dan merasakan saat-saat bahagia bersamanya.

“Kamu lihat apa?” Tanya Bima dengan logatnya yang medhok. Sepertinya dia merasa tidak nyaman dengan caraku memandangnya.

Aku hanya meggelengkan kepalaku sambil tersenyum seraya menjawab, “Tidak kok. Tidak ada apa-apa”

Beberapa saat kemudian, ketika jam dikamarku menunjukkan pukul 10 malam lebih sedikit, aku bangkit dari tempat tidurku, berjalan menuju jendela kamar, dan membukanya. Angin malam yang dingin masuk melalui jendela terbuka apartemenku yang berada dilantai 3. Aku melihat kearah Bima yang tertidur dilantai sambil memegangi buku yang belum selesai dibacanya. Aku tersenyum dan kemudian berbalik mendekatinya sehati-hati mungkin, agar dia tidak terbangun.

Aku mengambil selimut dari atas tempat tidur dan menggunakannya untuk menyelimuti tubuh Bima agar tidak kedinginan. Setelah itu, Aku mendekatkan wajahku kewajahnya, dan mendaratkan bibirku ke pipinya dengan lembut.

“Selamat tidur” kataku lirih.

Aku kemudian keluar melalui jendela, dan menutupnya dari luar. Aku melompat setinggi mungkin dan mendarat diatap gedung berlantai 15 yang terletak disebelah apartemenku.
Melihat pemandangan malam kota dari atas gedung, aku sudah siap untuk memasuki kehidupan malamku lagi.

“Siapa ya, yang akan jadi makan malamku hari ini?” Aku bertanya pada diriku sendiri.• Read More..

Aku Benci Orang Belanda

Dibuat tahun 2002 (kalau tidak salah. pokoknya awal2 aku kuliah). masih tidak bagus sama sekali.

Aku Benci Orang Belanda


Aku benci orang Belanda. Mereka membawa ayah pergi ayah. Mereka membuat ayah tidak kembali. Mereka menghilangkan ayah.

Sekarang hanya tinggal aku dan Ibu. Hanya kami berdua. Ibu terpaksa bekerja keras siang-malam untuk kehidupan kami. Menjadi orang miskin yang selalu kelaparan. Aku benci orang Belanda.

Suatu malam, mereka mengacaukan hidupku sekali lagi. Keparat-keparat putih berseragam tentara itu mendobrak rumah kami. Dengan segera ibu menyuruhku bersembunyi dibawah amben dan menutupinya dengan jarit. Ibu kemudian turun menemui mereka. Setelah itu, aku mendengar jeritan-jeritan kesakitan ibu, dan suara beling-beling pecah. Didalam persembunyianku, aku meringkuk menangis. Aku benci orang Belanda.

Keributan diluar berhenti. Aku mendengar suara langkah mendekat. Aku gemetaran sambil menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara. Kemudian seorang tentara Belanda menyibak jarit, dan melihatku yang bersembunyi ketakutan. Dia terus memandang mataku yang berair. Mengamati tubuh kurusku, dia lalu mengeluarkan roti dari ransel besarnya dan memberikannya kepadaku. Mengelus kepalaku, dia kemudian keluar dari kamar dan mengatakan “Neit” kepada teman-temannya. Setelah itu semua orang Belanda tadi keluar dari rumah kami.

Aku benci orang Belanda. Mereka mengambil ayahku, mereka mengambil ibuku, dan mereka merampas kehidupanku yang dulu. tapi dari orang yang kubenci itu pula, aku mendapatkan roti yang paling enak sedunia. Aku benci orang Belanda. Aku benci orang Belanda.

Aku terbangun. Aku terbangun dari mimpi masa kecilku. Masih dengan pandangan yang lamur, aku melihat seorang bidadari cantik berkulit putih dan berambut pirang, yang berbaring disampingku “Goede Morgen” kata bidadari itu dengan senyum lembutnya yang kemudian mengecup bibirku. Setelah pandanganku menjadi jelas, aku menyadari kalau bidadari itu adalah kesasihku.

Aku benci orang Belanda. Namun sekarang aku mulai ragu, apakah aku masih membenci mereka.• Read More..