Dibuat tahun 2008. pertama kali nongol di web-nya Villam.
Chapter 1: Encounter
Seorang pemuda terluka. Berlumuran darah. Dengan sisa-sisa kekuatan, dia menyeret kakinya menjauhi desanya yang dibakar, dibumi hanguskan oleh musuh. Dengan menggunakan ranting pohon sebagai tongkat penyangga, dia berjalan menjauh. Dia tidak lagi menengok kebelakang, kearah desanya yang membara, terbakar. Dia bisa mendengar suara teriakan kematian orangtua, saudara, teman-temannya, seperti menghantam genang telingannya hingga menggetarkan otaknya. Dia sedih, dia ingin menolong mereka semua, tapi dia mengingat pesan terakhir ibunya, ‘Hiduplah anakku, hiduplah’ Jadi dia harus tetap hidup,bagaimanapun caranya. Dia menangis. Dia ingin menoleh kebelakang, melihat desanya yang memerah, tapi dia tidak berani.
Dendam marah takut benci sedih dendam marah takut benci sedih dendam marah takut benci sedih ingin mati dendam marah takut benci sedih dendam marah takut benci sedih ingin mati dendam marah takut benci sedih dendam marah takut benci sedih tidak boleh mati dendam marah takut benci sedih harus terus hidup hidup hidup hidup hidup hidup hidup hidup hidup aku harus hidup AKU HARUS HIDUP!!
Ribuan perasaan memasuki hatinya dalam waktu bersamaan hingga membuatnya ingin muntah.
Si pemuda terus berjalan. menjauh dari tempat itu menuju hutan. menjauh dari neraka dunia. Menjauh agar tetap hidup. Entah sudah berapa jauh dia berjalan, tapi pada suatu saat, tubuhnya sudah tidak mampu lagi berdiri. Dia terjatuh. kesadarannya memudar. pandangannya kabur. tapi dia tetap dapat mendengar suara teriakan kematian saudara-saudaranya, berputar-putar dalam kepala. Dia kemudian menutup matanya, karena tubuhnya ternyata jauh lebih lelah daripada yang dibayangkannya.
*******
“Hei, hei”
Suara seseorang mengusiknya.
“Hei, hei”
Perlahan si pemuda membuka matanya.
“Hei, hei, kau tidak apa-apa? sebentar lagi hujan sebaiknya kau mencari tempat berteduh”
Begitu dia membuka matanya, dia melihat seorang gadis berkerudung hitam sedang jongkok disampingya. Refleks, pemuda itu melompat kebelakang, melupakan luka-lukanya, memasang sikap siaga. Begitu mendarat, si pemuda seperti merasakan sengatan listrik menjalar keseluruh tubuhnya. Tubuhnya yang belum pulih dipaksakan untuk melakukan sebuah gerakan tiba-tiba. seperti memprotes. Luka-lukanya kembali menyala.
“AAAAGH!!!”
Si pemuda berteriak kesakitan, berguling-guling diatas tanah berusaha meredam rasa sakit.
“Ka, kau tidak apa-apa?” tanya si gadis cemas sambil mendekatinya.
Begitu tangan si gadis berusaha menyentuh tubuhnya, pemuda itu langsung menampiknya.
Di mata gadis itu, si pemuda tampak seperti binatang liar yang terluka. Dia menganggap siapapun yang mendekatinya akan membahayakn jiwanya. Karena itu si pemuda bersikap ekstra waspada kepada siapapun yang berusaha mendekatinya.
Si pemuda melihat gadis itu memasang ekspresi wajah kasihan. Dan dia tidak suka itu. diambilnya sebongkah batu terdekat yang bisa diraihnya, dan dilemparkannya batu itu kearah si gadis. Tidak sempat menghindar, batu itu menghantam dahi si gadis dengan telak. Gadis itu berteriak kesakitan, namun suara teriakannya tertutup oleh suara guntur yang menggelegar.
Hujan rintik.
Gadis itu berlari menjauhi si pemuda dalam terpaan hujan rintik.
Baguslah, pikir si pemuda. Sebaiknya kau menjauh, kalau tidak akan kubunuh kau.
Semakin lama, hujan semakin deras. Pemuda terluka itu berusaha membawa tubuhnya untuk berteduh dibawah sebuah pohon besar didekatnya, tapi dia kemudian sadar bahwa tubuhnya tidak mampu untuk bergerak. Menyerah, dia biarkan air hujan membasahi tubuhnya, membasuh luka-lukanya yang terasa perih.
Beberapa saat kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ketika dia menoleh kearah suara itu, dia melihat gadis yang tadi dia lempar dengan batu kembali dengan berlari-lari kecil sambil membawa sesuatu yang panjang terbungkus terpal dibawah siraman hujan lebat.
Si pemuda sempat mengira kalau gadis itu kembali untuk membalas dendam, namun perkiraannya salah. Yang dibawa gadis itu ternyata adalah tongkat yang digunakan untuk mendirikan tenda sederhana. Dengan susah payah, gadis itu memberdirikan tongkat, mengikat ujung-ujungnya dengan tali, dan menghubungkannya dengan terpal.
Tenda sederhana berdiri. Tidak rapi, kecil, tapi cukup untuk berteduh. Gadis yang sekarang basah kuyub itu membuka bungkusan yang sama basahnya dengan baju yang dikenakannya, dan mengeluarkan roti.
“Basah memang, tapi masih enak” katanya sambil menjulurkan tangannya yang memegang roti.
“………..”
Si pemuda menatap gadis itu dengan curiga. Seperti mengetahui apa yang dipikirkan oleh pemuda liar dihadapannya, dia kemudian meletakkan roti basah itu di tanah, dan kemudian menjauh.
“Kenapa?” Tanya pemuda itu heran tanpa melepaskan kecurigaannya. Pemuda itu kemudian mengambil roti yang diberikan oleh si gadis. “Kenapa kau menolongku?”
Dengan tenang gadis itu menjawab,”Sudah kewajiban bagi seorang hamba tuhan untuk menolong sesamanya.” Si gadis menelungkupkan telapak tangannya didepan dadanya. Kemudian dia melanjutkan,” Aku hanya menjalankan apa yang diajarkan oleh tuhan kepadaku”
Gadis itu tersenyum. Sebuah senyuman terindah yang pernah dilihat oleh si pemuda. Dia kemudian menggigit roti yang digenggamnya, memakannya, dan menangis.•
Read More..
5/31/2009
11/13/2008
Ibu dan Adik Baru
Dibuat tahun 2001 kalo ga salah. pas awal2 aku mulai nulis.
Ibu dan Adik Baru
“Apakah ibu tiri itu jahat? Bagaimana rasanya punya ibu? Terus, bagaimana rasanya punya adik?” itu adalah pertanyaanku ketika ibu guru memberi kesempatan untuk bertanya tentang trigonometri.
Pertanyaanku disambut tawa oleh seluruh kelas. Suasana menjadi ramai, hingga ibu guru harus berteriak untuk menenangkan seluruh kelas.
“Nanti kalau punya ibu, kamu bisa minta mik cucu” ejek salah satu temanku.
Secara spontan kepalan tanganku mendarat dihidungnya disertai teriakan mengaduh yang cukup keras. Sejenak kelas menjadi sepi. Semua mata tertuju pada anak yang berguling-guling dilantai sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Dan seperti biasa, aku harus kembali berhadapan dengan guru BP setelah jam pelajaran selesai.
“Keempat kalinya dalam bulan ini, Ardi. Keempat kalinya!” kata Bu Indri, guru BP-ku heran. “Ibu sudah tidak tahu lagi harus member nasehat apa” tambahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Maaf…” kataku lirih sambil memainkan ujung celana pendek merahku.
“Kamu kenapa sih? Padahal kamu anak yang cerdas dan berprestasi, tapi kenapa bisa jadi sebrutal ini?” Tanya Bu Indri Tegas. Aku bisa merasakan kekesalan dari nada bicaranya.
Aku mengangkat wajahku dan menatap mata guru yang paling sering memberi ceramah padaku itu. “Bu guru…. apa ibu tiri itu jahat? Bagaimana rasanya punya ibu?”
Pertanyaanku membuat Bu Indri sedikit terkejut. Dia kemudian tersenyum dan berkata,”Ibu tiri jahat hanya ada di sinetron, Ardi tidak perlu cemas” Bu Indri membelai lembut rambutku dan melanjutkan,”Ibu yakin Ibu barumu akan sangat baik, sebaik almarhum ibumu. Kau akan merasakan kegembiraan seperti yang kau rasakan dulu bersama Ibumu”
“Tapi bu….” Potongku cepat. “Aku tidak tahu rasanya punya Ibu. Kata Ayah, ibu…… meninggal setelah melahirkan aku. Selain itu….adik. Aku tiba-tiba akan punya adik. Aku tidak suka itu. Adik hanya merepotkan saja”
………………………..
Terdengar alunan musik didalam kamarku. Alunan musik yang menjadi favoritku sejak kecil., Canon. Entah sejak kapan lagu ini menjadi favoritku. Sejak kecil aku seperti tumbuh diiringi lagu ini. Ketika sedang senang ataupun sedih, Canon selalu menemaniku. Aku bahkan mengikuti kursus piano hanya agar bisa memainkan lagu tersebut sendiri.
“Andri” panggilan ayah membuyarkan lamunanku. “Kau benar-benar menyukai musik ini ya? Canon”
Aku menjawabnya dengan anggukan tanpa semangat.
“Baiklah, cepat ganti baju. Kita segera berangkat” perintah ayah sambil memainkan kunci mobil dengan jarinya.
Ya. Hari ini aku dan ayah akan pergi ketempat calon ibu dan adik baruku. Rumah mereka berada diluar kota. Sepanjang perjalanan, ayah selalu memutar lagu music kesukaanku, Canon.
“Tidak apa yah? Terus-terusan putar lagu ini?” tanyaku.
“Tapi kau suka bukan?” seloroh ayah tersenyum.
Ya, aku memang suka lagu ini. Tapi apa ayah pikir aku bisa dibujuk hanya dengan memutar Canon terus-terusan? Aku tidak suka rencana ayah menikah lagi. Ibu baru? Adik baru? Aku tidak butuh. Selama ini, meskipun hanya dengan ayah saja, hidup kami sudah sangat baik.
“Kau tahu, dulu ibumu juga sangat menyukai lagu ini” kata ayah memecahkan keheningan diantara kami.
“Eh?”
“Ketika mengandung, lagu ini selalu diputar setiap hari. Tidak ada hari tanpa lagu ini” lanjut ayah mengenang. “jadi kau sudah mengenal lagu ini sejak dalam kandungan" Dia kemudian mencoba mengelus kepalaku, namun aku segera bergerak menghindar. Ayah tampak kecewa setelahnya.
****
“Ah, sudah datang ya? Mari-mari, silahkan masuk. Ini pasti Andri, benar bukan?” kata wanita yang memperkenalkan diri dengan nama Astuti itu dengan ramah. Namun tetap saja keramahannya tidak bisa menghilangkan wajah kesalku. Yang lebih membuatku kesal, Ayah selalu senyum-senyum memandangnya seperti orang bodoh. Wanita ini, calon ibuku.
“Clara dimana ya? Padahal sudah jauh-jauh bertamu kesini…” kata wanita itu sambil menyuguhkan segelas sirup sirsak padaku dan secangkir the untuk ayah.
“Mungkin sedang main diluar. Biasa, anak-anak” ucap ayah dengan senyum bodohnya. “Ayo, aku bantu cari” tambahnya sambil berdiri.
Bagus! Ini artinya aku juga harus ikut mencari bocah itu. Bagus sekali ayah, kau membuatku semakin kesal!
Kami bertiga kemudian keluar mencari ‘Clara’, anak yang akan menjadi adikku. Kami kemudian menemukannya sedang bermain dengan gelembung sabun di tanah kosong, beberapa puluh meter dari tempat rumah calon ibuku.
Seorang anak perempuan yang sedang berusaha membuat gelembung sabun. Tangan kirinya memegangi tempat cairan sabun, sedangkan tangan kanannya memegangi sedotan. Beberapa kali dia mengaduk sabunnya dengan sedotan, dan kemudian meniupnya. Karena tiupannya terlalu keras, gelembung sabunnya selalu pecah sebelum mengembang besar. Sekali lagi dia mengaduk sabunnya dengan kesal, dan melakukan kesalahan yang sama.
Dasar bodoh, pikirku.
Aku kemudian mendekati anak itu. Sang ibu juga berusaha mendekati Clara, tapi Ayah menahannya.
“Hei” kataku dingin pada anak itu.
Clara melihatku dengan wajah ketakutan.
Aku memperhatikan tangannya yang memegang tempat sabun dan sedotan. “Kau suka main gelembung sabun?” tanyaku.
Clara mengangguk. Dia masih terlihat takut padaku.
“Kamu meniupnya terlalu keras, jadi gelembungnya selalu pecah” aku mengulurkan tanganku. “Kemarikan. Aku tunjukkan caranya”
Dengan ragu, Clara memberikan botol sabun dan sedotannya.
Sedikit mengaduk, aku kemudian meniup sedotan dan membuat gelembung sabun.
Aku membuat gelembung sabun yang sagat besar. Saking besarnya, aku sendiri jadi merasa terkejut. Apa aku memang sejago ini bikin gelembung sabun?
Clara yang melihat gelembung sabun yang kubuat bersorak kegirangan. Matanya bersinar-sinar ketika gelembung sabun itu melayang-layang tertiup angin. Dia kemudian menarik-narik lengan bajuku sambil mengatakan,”Lagi, lagi” dengan bersemangat. Wajah takut yang ditunjukkannya padaku tadi telah menghilang.
Tangannya yang bersabun mengotori lengan baju favoritku. Biasanya kalau ada orang yang berani mengotori baju ini, langsung kutonjok tanpa pikir panjang. Namun entah kenapa, amarah yang biasanya meledak-ledak itu hilang karena senyum polos yang ditunjukkan Clara.
“Namamu siapa?” aku bertanya sambil tersenyum. Aku sebenarnya sudah tahu namanya, tapi aku hanya ingin bersikap ramah saja.
“Clara”
“Clara, mau diajari bikin gelembung sabun?”
“Umm, Umm” Jawabnya mantap sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Akhirnya aku menghabiskan hari ini dengan menemani Clara bermain gelembung sabun. Sedikit melelahkan, tapi tidak buruk. Malah sangat menyenangkan. Tanpa terasa, detik-demi detik telah berlalu. Matahari mulai tenggelam. Sudah saatnya pulang.
Ketika aku dan ayah pamit, Clara terus memegangi lenganku dengan wajah mau menangis. Dia diminta untuk melepaskan tanganku, tapi dia menggeleng sekuat tenaga, sambil mempererat pegangannya. Aku kemudian mendekati dan mengelus-elus kepalanya.
“Clara, kapan-kapan kita akan main bareng lagi. Kakak janji ….” Aku menghentikan ucapanku sampai disitu. Aku merasa sangat terkejut. Aku menyebut diriku sendiri dengan ‘kakak’. Ketika aku menoleh kearah Ayah, dia tampak sangat gembira.
Akhirnya Clara mau melepaskan pegangannya setelah kubujuk. Dia dan ibunya melambaikan tangan, mengantarkan kepergian kami.
Didalam mobil, ayah menyetir sambil senyum-senyum sendiri. Aku sampai harus beberapa kali mengingatkan agar melihat kedepan kalau menyetir mobil.
“Sepertinya…” kataku “Punya ibu dan adik tidak jelek juga”.
Ayah yang senang mendengar ucapanku, kemudian mengelus-elus kepalaku. Kali ini aku tidak menghindar.
Hanya dalam beberapa jam, semua pikiran buruk tentang ibu dan adik berubah. Sepertinya aku bisa menerima kehadiran mereka berdua dalam kehidupanku. Aku punya cukup waktu dan ruang pada diriku untuk mereka. Dan yang paling penting, aku mau ayahku bahagia. Ah, apakah ini tandanya aku sudah sedikit lebih dewasa?
Aku memasukkan kaset dan memutar lagu favoritku, Canon. Kami sekarang dalam perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan, alunan lagu Canon selalu mengiringi kami. Aku dan ayah mulai bersenandung mengikuti irama lagu tersebut.• Read More..
Ibu dan Adik Baru
“Apakah ibu tiri itu jahat? Bagaimana rasanya punya ibu? Terus, bagaimana rasanya punya adik?” itu adalah pertanyaanku ketika ibu guru memberi kesempatan untuk bertanya tentang trigonometri.
Pertanyaanku disambut tawa oleh seluruh kelas. Suasana menjadi ramai, hingga ibu guru harus berteriak untuk menenangkan seluruh kelas.
“Nanti kalau punya ibu, kamu bisa minta mik cucu” ejek salah satu temanku.
Secara spontan kepalan tanganku mendarat dihidungnya disertai teriakan mengaduh yang cukup keras. Sejenak kelas menjadi sepi. Semua mata tertuju pada anak yang berguling-guling dilantai sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Dan seperti biasa, aku harus kembali berhadapan dengan guru BP setelah jam pelajaran selesai.
“Keempat kalinya dalam bulan ini, Ardi. Keempat kalinya!” kata Bu Indri, guru BP-ku heran. “Ibu sudah tidak tahu lagi harus member nasehat apa” tambahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Maaf…” kataku lirih sambil memainkan ujung celana pendek merahku.
“Kamu kenapa sih? Padahal kamu anak yang cerdas dan berprestasi, tapi kenapa bisa jadi sebrutal ini?” Tanya Bu Indri Tegas. Aku bisa merasakan kekesalan dari nada bicaranya.
Aku mengangkat wajahku dan menatap mata guru yang paling sering memberi ceramah padaku itu. “Bu guru…. apa ibu tiri itu jahat? Bagaimana rasanya punya ibu?”
Pertanyaanku membuat Bu Indri sedikit terkejut. Dia kemudian tersenyum dan berkata,”Ibu tiri jahat hanya ada di sinetron, Ardi tidak perlu cemas” Bu Indri membelai lembut rambutku dan melanjutkan,”Ibu yakin Ibu barumu akan sangat baik, sebaik almarhum ibumu. Kau akan merasakan kegembiraan seperti yang kau rasakan dulu bersama Ibumu”
“Tapi bu….” Potongku cepat. “Aku tidak tahu rasanya punya Ibu. Kata Ayah, ibu…… meninggal setelah melahirkan aku. Selain itu….adik. Aku tiba-tiba akan punya adik. Aku tidak suka itu. Adik hanya merepotkan saja”
………………………..
Terdengar alunan musik didalam kamarku. Alunan musik yang menjadi favoritku sejak kecil., Canon. Entah sejak kapan lagu ini menjadi favoritku. Sejak kecil aku seperti tumbuh diiringi lagu ini. Ketika sedang senang ataupun sedih, Canon selalu menemaniku. Aku bahkan mengikuti kursus piano hanya agar bisa memainkan lagu tersebut sendiri.
“Andri” panggilan ayah membuyarkan lamunanku. “Kau benar-benar menyukai musik ini ya? Canon”
Aku menjawabnya dengan anggukan tanpa semangat.
“Baiklah, cepat ganti baju. Kita segera berangkat” perintah ayah sambil memainkan kunci mobil dengan jarinya.
Ya. Hari ini aku dan ayah akan pergi ketempat calon ibu dan adik baruku. Rumah mereka berada diluar kota. Sepanjang perjalanan, ayah selalu memutar lagu music kesukaanku, Canon.
“Tidak apa yah? Terus-terusan putar lagu ini?” tanyaku.
“Tapi kau suka bukan?” seloroh ayah tersenyum.
Ya, aku memang suka lagu ini. Tapi apa ayah pikir aku bisa dibujuk hanya dengan memutar Canon terus-terusan? Aku tidak suka rencana ayah menikah lagi. Ibu baru? Adik baru? Aku tidak butuh. Selama ini, meskipun hanya dengan ayah saja, hidup kami sudah sangat baik.
“Kau tahu, dulu ibumu juga sangat menyukai lagu ini” kata ayah memecahkan keheningan diantara kami.
“Eh?”
“Ketika mengandung, lagu ini selalu diputar setiap hari. Tidak ada hari tanpa lagu ini” lanjut ayah mengenang. “jadi kau sudah mengenal lagu ini sejak dalam kandungan" Dia kemudian mencoba mengelus kepalaku, namun aku segera bergerak menghindar. Ayah tampak kecewa setelahnya.
****
“Ah, sudah datang ya? Mari-mari, silahkan masuk. Ini pasti Andri, benar bukan?” kata wanita yang memperkenalkan diri dengan nama Astuti itu dengan ramah. Namun tetap saja keramahannya tidak bisa menghilangkan wajah kesalku. Yang lebih membuatku kesal, Ayah selalu senyum-senyum memandangnya seperti orang bodoh. Wanita ini, calon ibuku.
“Clara dimana ya? Padahal sudah jauh-jauh bertamu kesini…” kata wanita itu sambil menyuguhkan segelas sirup sirsak padaku dan secangkir the untuk ayah.
“Mungkin sedang main diluar. Biasa, anak-anak” ucap ayah dengan senyum bodohnya. “Ayo, aku bantu cari” tambahnya sambil berdiri.
Bagus! Ini artinya aku juga harus ikut mencari bocah itu. Bagus sekali ayah, kau membuatku semakin kesal!
Kami bertiga kemudian keluar mencari ‘Clara’, anak yang akan menjadi adikku. Kami kemudian menemukannya sedang bermain dengan gelembung sabun di tanah kosong, beberapa puluh meter dari tempat rumah calon ibuku.
Seorang anak perempuan yang sedang berusaha membuat gelembung sabun. Tangan kirinya memegangi tempat cairan sabun, sedangkan tangan kanannya memegangi sedotan. Beberapa kali dia mengaduk sabunnya dengan sedotan, dan kemudian meniupnya. Karena tiupannya terlalu keras, gelembung sabunnya selalu pecah sebelum mengembang besar. Sekali lagi dia mengaduk sabunnya dengan kesal, dan melakukan kesalahan yang sama.
Dasar bodoh, pikirku.
Aku kemudian mendekati anak itu. Sang ibu juga berusaha mendekati Clara, tapi Ayah menahannya.
“Hei” kataku dingin pada anak itu.
Clara melihatku dengan wajah ketakutan.
Aku memperhatikan tangannya yang memegang tempat sabun dan sedotan. “Kau suka main gelembung sabun?” tanyaku.
Clara mengangguk. Dia masih terlihat takut padaku.
“Kamu meniupnya terlalu keras, jadi gelembungnya selalu pecah” aku mengulurkan tanganku. “Kemarikan. Aku tunjukkan caranya”
Dengan ragu, Clara memberikan botol sabun dan sedotannya.
Sedikit mengaduk, aku kemudian meniup sedotan dan membuat gelembung sabun.
Aku membuat gelembung sabun yang sagat besar. Saking besarnya, aku sendiri jadi merasa terkejut. Apa aku memang sejago ini bikin gelembung sabun?
Clara yang melihat gelembung sabun yang kubuat bersorak kegirangan. Matanya bersinar-sinar ketika gelembung sabun itu melayang-layang tertiup angin. Dia kemudian menarik-narik lengan bajuku sambil mengatakan,”Lagi, lagi” dengan bersemangat. Wajah takut yang ditunjukkannya padaku tadi telah menghilang.
Tangannya yang bersabun mengotori lengan baju favoritku. Biasanya kalau ada orang yang berani mengotori baju ini, langsung kutonjok tanpa pikir panjang. Namun entah kenapa, amarah yang biasanya meledak-ledak itu hilang karena senyum polos yang ditunjukkan Clara.
“Namamu siapa?” aku bertanya sambil tersenyum. Aku sebenarnya sudah tahu namanya, tapi aku hanya ingin bersikap ramah saja.
“Clara”
“Clara, mau diajari bikin gelembung sabun?”
“Umm, Umm” Jawabnya mantap sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Akhirnya aku menghabiskan hari ini dengan menemani Clara bermain gelembung sabun. Sedikit melelahkan, tapi tidak buruk. Malah sangat menyenangkan. Tanpa terasa, detik-demi detik telah berlalu. Matahari mulai tenggelam. Sudah saatnya pulang.
Ketika aku dan ayah pamit, Clara terus memegangi lenganku dengan wajah mau menangis. Dia diminta untuk melepaskan tanganku, tapi dia menggeleng sekuat tenaga, sambil mempererat pegangannya. Aku kemudian mendekati dan mengelus-elus kepalanya.
“Clara, kapan-kapan kita akan main bareng lagi. Kakak janji ….” Aku menghentikan ucapanku sampai disitu. Aku merasa sangat terkejut. Aku menyebut diriku sendiri dengan ‘kakak’. Ketika aku menoleh kearah Ayah, dia tampak sangat gembira.
Akhirnya Clara mau melepaskan pegangannya setelah kubujuk. Dia dan ibunya melambaikan tangan, mengantarkan kepergian kami.
Didalam mobil, ayah menyetir sambil senyum-senyum sendiri. Aku sampai harus beberapa kali mengingatkan agar melihat kedepan kalau menyetir mobil.
“Sepertinya…” kataku “Punya ibu dan adik tidak jelek juga”.
Ayah yang senang mendengar ucapanku, kemudian mengelus-elus kepalaku. Kali ini aku tidak menghindar.
Hanya dalam beberapa jam, semua pikiran buruk tentang ibu dan adik berubah. Sepertinya aku bisa menerima kehadiran mereka berdua dalam kehidupanku. Aku punya cukup waktu dan ruang pada diriku untuk mereka. Dan yang paling penting, aku mau ayahku bahagia. Ah, apakah ini tandanya aku sudah sedikit lebih dewasa?
Aku memasukkan kaset dan memutar lagu favoritku, Canon. Kami sekarang dalam perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan, alunan lagu Canon selalu mengiringi kami. Aku dan ayah mulai bersenandung mengikuti irama lagu tersebut.• Read More..
Labels:
Cerita Pendek
11/05/2008
My Super Selfish Step Sister (MS4)
dibuat tahun 2008 juga. waktu itu pas hari jumat, malah banyak kerjaan. padahal maunya jumat itu santai santai. terus kepikiran buat bikin yang satu ini.
My Super Selfish Step Sister (MS4)
Namaku Andi Eka Bhayangkara, 17 tahun, kelas 2 SMAN 2 Klaten. Kehidupanku sampai saat ini biasa-biasa saja. Ya, untuk sementara ini baik-baik saja. Ayahku adalah seorang polisi yang menjabat sebagai Wakapolda Jawa Tengah, sehingga lebih sering berada di Semarang dari pada di Klaten. Ibu kandungku meninggal ketika aku masih berusia sekitar 7 tahun. Kemudian ketika aku kelas 1 SMP, ayahku menikah lagi dengan ibu dari teman sekelasku waktu itu. Dan secara tiba-tiba, aku memiliki seorang ibu baru dan seorang adik perempuan yang usianya hanya 6 bulan lebih muda dari aku.
Nama adikku yang baru adalah Eka Aryani. Aneh memang, karena ada dua orang ‘Eka’ dalam keluarga kami. Jadi ketika ada yang memanggil ‘Eka’, kami berdua otomatis menyahut secara bersamaan. Ibu (yang baru) sempat mengusulkan untuk mengganti nama adikku menjadi Dwi Aryani, tapi komentar ayah, ”Halah, buat apa? Pangil saja si kakak Andi, dan si adik Ani. Beres kan?” akhirnya kami semua menyetujui usul ayah.
Tapi masalah tidak selesai disitu. Meskipun yang mengusulkan Ayah, dia tetap sering memanggil kami dengan nama ‘Eka’, sehingga kami harus balik bertanya “Yang mana?” secara bersamaan. Setelah itu Ayah akan menjawab “yang adik”, atau “yang kakak”.
Sebenarnya Eka, maksudku, Ani, adalah adik yang baik, tapi sayangnya dia kelewat aktif. Kalau sudah mau sesuatu, harus dituruti. Super egois. Masalah kedua, dia tipikal orang yang cepat bosan. Misalnya, ketika dia sedang tergila-gila sama olah raga basket, dia seakan mewajibkanku ikut-ikutan main basket. Namun setelah 3 bulan berlatih, dengan enaknya dia bilang “Bosan. Mau ganti yang lain”. Super kekanakan.
Aku masih ingat ketika dia tiba-tiba ingin memelihara ular. Kularang, dia ngotot. Setelah dibelikan, beberapa minggu kemudian ularnya lepas. Jadinya aku harus blusukan kekolong-kolong tempat tidur, meja, lemari sampai ketempat-tempat aneh disekitar rumah. Setelah tertangkap (untung ularnya tidak berbisa) dia bilang,”Nggak ah, takut lepas lagi. Buat kakak saja.” HIIIIIIIIH!!!! Pingin kucekik dia pakai ular yang kupegang saat itu.
Teman-teman bilang senyumnya manis. Tapi buatku, senyum manisnya itu artinya BAHAYA! Soalnya pasti ada maunya. Kalau maunya yang biasa saja sih, tidak apa-apa. Tapi dia maunya itu selalu aneh-aneh. Ya ular-lah, belajar nge-drift-lah, padahal menjaga mesin mobil tetap hidup saja dia tidak bisa, pokoknya sesuatu yang aneh bin ajaib.
Sebenarnya kalau dia mau yang aneh-aneh itu tidak apa-apa, asal jangan libatkan aku. Anak itu sedikit-sedikit, “Kak!”, sedikit-sedikit, “Kak,”. aku kadang berpikir, apa sih maunya anak ini?
Bukan cuma itu saja yang sering bikin aku kesal. Kalau minta sama orang lain, dia bersikap manisnya luar biasa. Kalau mintanya ke aku, pake gaya merintah. Posisiku ini sebagai KAKAK! Bukan pembantu!
Saat ini, dia sedang suka baca cerita-cerita Enid Blyton. Ide-ide gila belum masuk kekepalanya. Sementara ini, Aman! Ya, sementara ini. Tapi aku yakin kalau suasana aman ini tidak akan berlangsung lama.
Suatu sore, ketika ayah sedang pulang ke Klaten untuk Liburan, aku melihat adikku sedang membaca komik Detektif Conan di sofa di ruang tengah, Ayah sedang duduk disampingnya membaca Koran, dan Ibu sedang entah dimana.
Melihat suasana damai tersebut, aku memutuskan menonton sepak bola Liga Indonesia yang disiarkan salah satu stasiun TV sambil tiduran di karpet. Sedang asik-asiknya menonton pertandingan, tiba-tiba adikku menutupi layar TV yang sedang kutonton dengan badannya sambil tersenyum bersemangat.
“Minggir Ni. Aku mau nonton!” kataku kesal
Tapi dia tidak beranjak dari tempatnya. Dia malah tertawa terkikik dengan suara yang sangat aneh.
Ok, aku tahu apa artinya ini. Ini artinya masa-masa damaiku sebentar lagi berakhir.
“Kak, tahu nggak? Aku punya ide yang bagus sekali” katanya bersemangat.
Ya, terus?
“Kakak tahu, kan? Banyak sekali kejahatan remaja yang dilakukan oleh orang-orang seumuran kita.”
Ya, terus?
“Tentunya polisi tidak bisa berbuat banyak karena mereka jarang sekali bersinggungan dengan kehidupan remaja. Karena mereka tidak bisa tahu jalan pikiran remaja”
Ya, terus?
“Yang paling tahu tentang remaja adalah remaja itu sendiri, Bukan?” katanya menjelaskan
Aku melihat buku yang dipegangnya. Detektif Conan.
“…………………………………..”
…Jangan katakan kalau kau…mau…
“Terus idemu?” aku bertanya dengan suara tertahan. Aku merasakan keringatku yang mengalir membasahi punggungku.
“Membuat klub detektif SMA”
He?
“Kerjaannnya menyelidiki kasus-kasus kenakalan remaja di SMA kita”
Heeeee?!!!
“Dan kakak dapat kehormatan untuk menjadi anggota yang pertama”
HEEEEEEEE…………..?!!!!
Aku berdiri, mendekat, dan menatap matanya. Dia diam tidak bergerak, balas menatapku. Setelah diam agak lama, kutowel pipinya. Dia protes, tapi tidak aku gubris. Karena yang seharusnya protes itu aku. Tapi apa daya, aku hanya bisa pasrah karena ayah ber-*ehem* dengan sengaja yang kira-kira artinya “Nurut saja, le”
Nasib....• Read More..
My Super Selfish Step Sister (MS4)
Namaku Andi Eka Bhayangkara, 17 tahun, kelas 2 SMAN 2 Klaten. Kehidupanku sampai saat ini biasa-biasa saja. Ya, untuk sementara ini baik-baik saja. Ayahku adalah seorang polisi yang menjabat sebagai Wakapolda Jawa Tengah, sehingga lebih sering berada di Semarang dari pada di Klaten. Ibu kandungku meninggal ketika aku masih berusia sekitar 7 tahun. Kemudian ketika aku kelas 1 SMP, ayahku menikah lagi dengan ibu dari teman sekelasku waktu itu. Dan secara tiba-tiba, aku memiliki seorang ibu baru dan seorang adik perempuan yang usianya hanya 6 bulan lebih muda dari aku.
Nama adikku yang baru adalah Eka Aryani. Aneh memang, karena ada dua orang ‘Eka’ dalam keluarga kami. Jadi ketika ada yang memanggil ‘Eka’, kami berdua otomatis menyahut secara bersamaan. Ibu (yang baru) sempat mengusulkan untuk mengganti nama adikku menjadi Dwi Aryani, tapi komentar ayah, ”Halah, buat apa? Pangil saja si kakak Andi, dan si adik Ani. Beres kan?” akhirnya kami semua menyetujui usul ayah.
Tapi masalah tidak selesai disitu. Meskipun yang mengusulkan Ayah, dia tetap sering memanggil kami dengan nama ‘Eka’, sehingga kami harus balik bertanya “Yang mana?” secara bersamaan. Setelah itu Ayah akan menjawab “yang adik”, atau “yang kakak”.
Sebenarnya Eka, maksudku, Ani, adalah adik yang baik, tapi sayangnya dia kelewat aktif. Kalau sudah mau sesuatu, harus dituruti. Super egois. Masalah kedua, dia tipikal orang yang cepat bosan. Misalnya, ketika dia sedang tergila-gila sama olah raga basket, dia seakan mewajibkanku ikut-ikutan main basket. Namun setelah 3 bulan berlatih, dengan enaknya dia bilang “Bosan. Mau ganti yang lain”. Super kekanakan.
Aku masih ingat ketika dia tiba-tiba ingin memelihara ular. Kularang, dia ngotot. Setelah dibelikan, beberapa minggu kemudian ularnya lepas. Jadinya aku harus blusukan kekolong-kolong tempat tidur, meja, lemari sampai ketempat-tempat aneh disekitar rumah. Setelah tertangkap (untung ularnya tidak berbisa) dia bilang,”Nggak ah, takut lepas lagi. Buat kakak saja.” HIIIIIIIIH!!!! Pingin kucekik dia pakai ular yang kupegang saat itu.
Teman-teman bilang senyumnya manis. Tapi buatku, senyum manisnya itu artinya BAHAYA! Soalnya pasti ada maunya. Kalau maunya yang biasa saja sih, tidak apa-apa. Tapi dia maunya itu selalu aneh-aneh. Ya ular-lah, belajar nge-drift-lah, padahal menjaga mesin mobil tetap hidup saja dia tidak bisa, pokoknya sesuatu yang aneh bin ajaib.
Sebenarnya kalau dia mau yang aneh-aneh itu tidak apa-apa, asal jangan libatkan aku. Anak itu sedikit-sedikit, “Kak!”, sedikit-sedikit, “Kak,”. aku kadang berpikir, apa sih maunya anak ini?
Bukan cuma itu saja yang sering bikin aku kesal. Kalau minta sama orang lain, dia bersikap manisnya luar biasa. Kalau mintanya ke aku, pake gaya merintah. Posisiku ini sebagai KAKAK! Bukan pembantu!
Saat ini, dia sedang suka baca cerita-cerita Enid Blyton. Ide-ide gila belum masuk kekepalanya. Sementara ini, Aman! Ya, sementara ini. Tapi aku yakin kalau suasana aman ini tidak akan berlangsung lama.
Suatu sore, ketika ayah sedang pulang ke Klaten untuk Liburan, aku melihat adikku sedang membaca komik Detektif Conan di sofa di ruang tengah, Ayah sedang duduk disampingnya membaca Koran, dan Ibu sedang entah dimana.
Melihat suasana damai tersebut, aku memutuskan menonton sepak bola Liga Indonesia yang disiarkan salah satu stasiun TV sambil tiduran di karpet. Sedang asik-asiknya menonton pertandingan, tiba-tiba adikku menutupi layar TV yang sedang kutonton dengan badannya sambil tersenyum bersemangat.
“Minggir Ni. Aku mau nonton!” kataku kesal
Tapi dia tidak beranjak dari tempatnya. Dia malah tertawa terkikik dengan suara yang sangat aneh.
Ok, aku tahu apa artinya ini. Ini artinya masa-masa damaiku sebentar lagi berakhir.
“Kak, tahu nggak? Aku punya ide yang bagus sekali” katanya bersemangat.
Ya, terus?
“Kakak tahu, kan? Banyak sekali kejahatan remaja yang dilakukan oleh orang-orang seumuran kita.”
Ya, terus?
“Tentunya polisi tidak bisa berbuat banyak karena mereka jarang sekali bersinggungan dengan kehidupan remaja. Karena mereka tidak bisa tahu jalan pikiran remaja”
Ya, terus?
“Yang paling tahu tentang remaja adalah remaja itu sendiri, Bukan?” katanya menjelaskan
Aku melihat buku yang dipegangnya. Detektif Conan.
“…………………………………..”
…Jangan katakan kalau kau…mau…
“Terus idemu?” aku bertanya dengan suara tertahan. Aku merasakan keringatku yang mengalir membasahi punggungku.
“Membuat klub detektif SMA”
He?
“Kerjaannnya menyelidiki kasus-kasus kenakalan remaja di SMA kita”
Heeeee?!!!
“Dan kakak dapat kehormatan untuk menjadi anggota yang pertama”
HEEEEEEEE…………..?!!!!
Aku berdiri, mendekat, dan menatap matanya. Dia diam tidak bergerak, balas menatapku. Setelah diam agak lama, kutowel pipinya. Dia protes, tapi tidak aku gubris. Karena yang seharusnya protes itu aku. Tapi apa daya, aku hanya bisa pasrah karena ayah ber-*ehem* dengan sengaja yang kira-kira artinya “Nurut saja, le”
Nasib....• Read More..
Labels:
Cerita Pendek
Subscribe to:
Posts (Atom)