Dibuat tahun 2008. pertama kali nongol di web-nya Villam.
Chapter 1: Encounter
Seorang pemuda terluka. Berlumuran darah. Dengan sisa-sisa kekuatan, dia menyeret kakinya menjauhi desanya yang dibakar, dibumi hanguskan oleh musuh. Dengan menggunakan ranting pohon sebagai tongkat penyangga, dia berjalan menjauh. Dia tidak lagi menengok kebelakang, kearah desanya yang membara, terbakar. Dia bisa mendengar suara teriakan kematian orangtua, saudara, teman-temannya, seperti menghantam genang telingannya hingga menggetarkan otaknya. Dia sedih, dia ingin menolong mereka semua, tapi dia mengingat pesan terakhir ibunya, ‘Hiduplah anakku, hiduplah’ Jadi dia harus tetap hidup,bagaimanapun caranya. Dia menangis. Dia ingin menoleh kebelakang, melihat desanya yang memerah, tapi dia tidak berani.
Dendam marah takut benci sedih dendam marah takut benci sedih dendam marah takut benci sedih ingin mati dendam marah takut benci sedih dendam marah takut benci sedih ingin mati dendam marah takut benci sedih dendam marah takut benci sedih tidak boleh mati dendam marah takut benci sedih harus terus hidup hidup hidup hidup hidup hidup hidup hidup hidup aku harus hidup AKU HARUS HIDUP!!
Ribuan perasaan memasuki hatinya dalam waktu bersamaan hingga membuatnya ingin muntah.
Si pemuda terus berjalan. menjauh dari tempat itu menuju hutan. menjauh dari neraka dunia. Menjauh agar tetap hidup. Entah sudah berapa jauh dia berjalan, tapi pada suatu saat, tubuhnya sudah tidak mampu lagi berdiri. Dia terjatuh. kesadarannya memudar. pandangannya kabur. tapi dia tetap dapat mendengar suara teriakan kematian saudara-saudaranya, berputar-putar dalam kepala. Dia kemudian menutup matanya, karena tubuhnya ternyata jauh lebih lelah daripada yang dibayangkannya.
*******
“Hei, hei”
Suara seseorang mengusiknya.
“Hei, hei”
Perlahan si pemuda membuka matanya.
“Hei, hei, kau tidak apa-apa? sebentar lagi hujan sebaiknya kau mencari tempat berteduh”
Begitu dia membuka matanya, dia melihat seorang gadis berkerudung hitam sedang jongkok disampingya. Refleks, pemuda itu melompat kebelakang, melupakan luka-lukanya, memasang sikap siaga. Begitu mendarat, si pemuda seperti merasakan sengatan listrik menjalar keseluruh tubuhnya. Tubuhnya yang belum pulih dipaksakan untuk melakukan sebuah gerakan tiba-tiba. seperti memprotes. Luka-lukanya kembali menyala.
“AAAAGH!!!”
Si pemuda berteriak kesakitan, berguling-guling diatas tanah berusaha meredam rasa sakit.
“Ka, kau tidak apa-apa?” tanya si gadis cemas sambil mendekatinya.
Begitu tangan si gadis berusaha menyentuh tubuhnya, pemuda itu langsung menampiknya.
Di mata gadis itu, si pemuda tampak seperti binatang liar yang terluka. Dia menganggap siapapun yang mendekatinya akan membahayakn jiwanya. Karena itu si pemuda bersikap ekstra waspada kepada siapapun yang berusaha mendekatinya.
Si pemuda melihat gadis itu memasang ekspresi wajah kasihan. Dan dia tidak suka itu. diambilnya sebongkah batu terdekat yang bisa diraihnya, dan dilemparkannya batu itu kearah si gadis. Tidak sempat menghindar, batu itu menghantam dahi si gadis dengan telak. Gadis itu berteriak kesakitan, namun suara teriakannya tertutup oleh suara guntur yang menggelegar.
Hujan rintik.
Gadis itu berlari menjauhi si pemuda dalam terpaan hujan rintik.
Baguslah, pikir si pemuda. Sebaiknya kau menjauh, kalau tidak akan kubunuh kau.
Semakin lama, hujan semakin deras. Pemuda terluka itu berusaha membawa tubuhnya untuk berteduh dibawah sebuah pohon besar didekatnya, tapi dia kemudian sadar bahwa tubuhnya tidak mampu untuk bergerak. Menyerah, dia biarkan air hujan membasahi tubuhnya, membasuh luka-lukanya yang terasa perih.
Beberapa saat kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ketika dia menoleh kearah suara itu, dia melihat gadis yang tadi dia lempar dengan batu kembali dengan berlari-lari kecil sambil membawa sesuatu yang panjang terbungkus terpal dibawah siraman hujan lebat.
Si pemuda sempat mengira kalau gadis itu kembali untuk membalas dendam, namun perkiraannya salah. Yang dibawa gadis itu ternyata adalah tongkat yang digunakan untuk mendirikan tenda sederhana. Dengan susah payah, gadis itu memberdirikan tongkat, mengikat ujung-ujungnya dengan tali, dan menghubungkannya dengan terpal.
Tenda sederhana berdiri. Tidak rapi, kecil, tapi cukup untuk berteduh. Gadis yang sekarang basah kuyub itu membuka bungkusan yang sama basahnya dengan baju yang dikenakannya, dan mengeluarkan roti.
“Basah memang, tapi masih enak” katanya sambil menjulurkan tangannya yang memegang roti.
“………..”
Si pemuda menatap gadis itu dengan curiga. Seperti mengetahui apa yang dipikirkan oleh pemuda liar dihadapannya, dia kemudian meletakkan roti basah itu di tanah, dan kemudian menjauh.
“Kenapa?” Tanya pemuda itu heran tanpa melepaskan kecurigaannya. Pemuda itu kemudian mengambil roti yang diberikan oleh si gadis. “Kenapa kau menolongku?”
Dengan tenang gadis itu menjawab,”Sudah kewajiban bagi seorang hamba tuhan untuk menolong sesamanya.” Si gadis menelungkupkan telapak tangannya didepan dadanya. Kemudian dia melanjutkan,” Aku hanya menjalankan apa yang diajarkan oleh tuhan kepadaku”
Gadis itu tersenyum. Sebuah senyuman terindah yang pernah dilihat oleh si pemuda. Dia kemudian menggigit roti yang digenggamnya, memakannya, dan menangis.•
5/31/2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment