Dibuat tahun 2008. versi awal dari Devil's Eye
Aku : Vampire
Namaku Wilhelmina Marker. Dan aku seorang vampire.
Bima, manusia yang memiliki tenaga spiritual yang luar biasa, satu-satunya mahluk yang pernah mengalahkanku, sedang duduk dilantai apartemenku membaca sebuah buku yang kelihatannya menarik, sambil menyandarkan punggungnya ke tembok.
Ketika dia sedang tenggelam dalam dunia bukunya, Aku terkadang melirik, melihat wajah seriusnya. Aku tahu bahwa tidak seharusnya aku menyimpan perasaan ini kepada seorang manusia, karena aku tahu bahwa kami tidak mungkin bersatu.
Aku adalah seorang vampire yang abadi dan hidup dibawah remangnya cahaya bulan, sedangkan dia adalah manusia, yang berumur pendek dan hidup dibawah terangnya matahari. Dari semua kisah cinta yang melibatkan bangsa manusia dengan vampire yang pernah kudengar, tidak ada satupun yang berakhir bahagia.
Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli apakah cerita kami nanti akan berakhir bahagia atau tidak. Yang jelas, saat ini aku hanya selalu berada disisinya, tertawa bersama, dan merasakan saat-saat bahagia bersamanya.
“Kamu lihat apa?” Tanya Bima dengan logatnya yang medhok. Sepertinya dia merasa tidak nyaman dengan caraku memandangnya.
Aku hanya meggelengkan kepalaku sambil tersenyum seraya menjawab, “Tidak kok. Tidak ada apa-apa”
Beberapa saat kemudian, ketika jam dikamarku menunjukkan pukul 10 malam lebih sedikit, aku bangkit dari tempat tidurku, berjalan menuju jendela kamar, dan membukanya. Angin malam yang dingin masuk melalui jendela terbuka apartemenku yang berada dilantai 3. Aku melihat kearah Bima yang tertidur dilantai sambil memegangi buku yang belum selesai dibacanya. Aku tersenyum dan kemudian berbalik mendekatinya sehati-hati mungkin, agar dia tidak terbangun.
Aku mengambil selimut dari atas tempat tidur dan menggunakannya untuk menyelimuti tubuh Bima agar tidak kedinginan. Setelah itu, Aku mendekatkan wajahku kewajahnya, dan mendaratkan bibirku ke pipinya dengan lembut.
“Selamat tidur” kataku lirih.
Aku kemudian keluar melalui jendela, dan menutupnya dari luar. Aku melompat setinggi mungkin dan mendarat diatap gedung berlantai 15 yang terletak disebelah apartemenku.
Melihat pemandangan malam kota dari atas gedung, aku sudah siap untuk memasuki kehidupan malamku lagi.
“Siapa ya, yang akan jadi makan malamku hari ini?” Aku bertanya pada diriku sendiri.•
11/05/2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment