11/05/2008

Aku Benci Orang Belanda

Dibuat tahun 2002 (kalau tidak salah. pokoknya awal2 aku kuliah). masih tidak bagus sama sekali.

Aku Benci Orang Belanda


Aku benci orang Belanda. Mereka membawa ayah pergi ayah. Mereka membuat ayah tidak kembali. Mereka menghilangkan ayah.

Sekarang hanya tinggal aku dan Ibu. Hanya kami berdua. Ibu terpaksa bekerja keras siang-malam untuk kehidupan kami. Menjadi orang miskin yang selalu kelaparan. Aku benci orang Belanda.

Suatu malam, mereka mengacaukan hidupku sekali lagi. Keparat-keparat putih berseragam tentara itu mendobrak rumah kami. Dengan segera ibu menyuruhku bersembunyi dibawah amben dan menutupinya dengan jarit. Ibu kemudian turun menemui mereka. Setelah itu, aku mendengar jeritan-jeritan kesakitan ibu, dan suara beling-beling pecah. Didalam persembunyianku, aku meringkuk menangis. Aku benci orang Belanda.

Keributan diluar berhenti. Aku mendengar suara langkah mendekat. Aku gemetaran sambil menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara. Kemudian seorang tentara Belanda menyibak jarit, dan melihatku yang bersembunyi ketakutan. Dia terus memandang mataku yang berair. Mengamati tubuh kurusku, dia lalu mengeluarkan roti dari ransel besarnya dan memberikannya kepadaku. Mengelus kepalaku, dia kemudian keluar dari kamar dan mengatakan “Neit” kepada teman-temannya. Setelah itu semua orang Belanda tadi keluar dari rumah kami.

Aku benci orang Belanda. Mereka mengambil ayahku, mereka mengambil ibuku, dan mereka merampas kehidupanku yang dulu. tapi dari orang yang kubenci itu pula, aku mendapatkan roti yang paling enak sedunia. Aku benci orang Belanda. Aku benci orang Belanda.

Aku terbangun. Aku terbangun dari mimpi masa kecilku. Masih dengan pandangan yang lamur, aku melihat seorang bidadari cantik berkulit putih dan berambut pirang, yang berbaring disampingku “Goede Morgen” kata bidadari itu dengan senyum lembutnya yang kemudian mengecup bibirku. Setelah pandanganku menjadi jelas, aku menyadari kalau bidadari itu adalah kesasihku.

Aku benci orang Belanda. Namun sekarang aku mulai ragu, apakah aku masih membenci mereka.•

No comments: